Saturday, 11 November 2017

Meneguhkan keyakinan dalam novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja





“Sekarang saya sudah dewasa. Sudah cukup matang untuk mempunyai pendirian sendiri dalam soal-soal hidup. Ayah tidak boleh memaksa-maksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya. Juga dalam pendirian saya terhadap agama,” kata Hasan.

“Kalau begitu, baiklah kita berpisahan jalan saja. Kau sudah mendapat jalan sendiri, ayah dan ibu pun sudah ada jalan sendiri. Jadi baiklah kita bernapsi-napsi saja menempuh jalan masing-masing. Memang, ayah dan ibu hanya berbuat sekadar sebagai orang tua saja, yang menjalankan sesuatu yang dianggapnya memang kewajibannya terhadap anaknya, ialah mendoakan semoga engkau di jalan hidup ini bertemu dengan keselamatan lahir batin, dunia akhirat. Hanya sekianlah yang ayah dan ibu selalu pohonkan dari Tuhan kami,”  ayahnya menimpali.

Hasan, adalah seorang pemuda yang dibesarkan di tengah keluarga yang taat beragama islam. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di di Panyeredan, Wanareja, Garut. Setelah menamatkan sekolahnya di HIS dan kemudian MULO, Hasan bekerja di Jawatan Air Kotapraja Bandung. Masih muda, berpendidikan, sudah bekerja, dan keturunan keluarga menak (ayahnya pensiunan manteri guru/Kepala Sekolah Dasar) yang baik-baik, menjadikan Hasan pria idaman yang membuat lumer hati para calon mertua.
Pada suatu hari secara tiba-tiba dengan penuh rasa yakin dalam hati, Hasan berkata kepada kedua orang tuanya, bahwa ia ingin turut serta memeluk ilmu yang kedua orang tuanya jalani. Mendengar anaknya berkata demikian, mata kedua orang tuanya seketika membasah. Tangis haru bahagia membuncah ketika mendengar anaknya itu hendak mendalami ilmu agama. Ia menjalankan puasa tujuh hari tujuh malam dan mandi di sungai Ci Kapundung sebanyak 40  kali selama satu malam, dari ba’da Isya sampai menjelang Subuh. Selain itu, ia pun pernah mengunci diri di dalam kamar selama tiga hari tiga malam: tidak makan, tidak minum, dan tiada bercakap dengan manusia.
Akibat menjalani ritual tersebut, wajah hasan terlihat pucat. Perubahan fisik Hasan mulai terlihat. Hasan mulai sakit-sakitan. Pekerjaannya mulai terbengkalai. Dia juga semakin melemah. Bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Karena ini pula paru-paru Hasan terserang TBC.
Dalam mendalami ilmu tarekat, Hasan dan rekan-rekannya sering melakukan pertemuan dengan gutunya untuk mendengarkan uraian-uraian soal agama dari gurunya. Hasan dan rekan-rekannya hanya diperintahkan untuk mengikuti arahan dari gurunya.
“Nanti pun akan terbuka rahasia yang sekarang masih gelap itu. Bekerja sajalah yang rajin untuk ilmu kita itu, perbanyak berzikir, perbanyak bertawaduk, perbanyaklah berpuasa dan kurangi tidur. InsyaAllah nanti pun segala-gala akan menjadi terang. Untuk yang rajin beribadat dan melakukan segala perintah ajaran ilmu kita, tak akan ada perkataan ‘wallahualam’ itu. Baginya tak akan ada rahasia lagi. Sesungguhnya, hanya rohani yang suci bisa meningkat kepada tingkatan makrifat dan hakikat, InsyaAllah, rajin-rajinlah saja menjalankan segala perintah yang telah kuajarkan kepadamu itu!” Jawab sang guru menangkal pertanyaan dari murid-muridnya.
Awal mula pergulatan keyakinan dalam batin Hasan adalah ketika ia bertemu dengan rekannya sewaktu bersekolah di HIS Tasikmalaya. Rusli namanya, ia baru pindah ke Bandung. Mereka berdua bertemu pada saat Rusli datang ke kantor Hasan untuk mengajukan permintaan pasang air. Saat Rusli datang ke Kantor Jawatan Air dia tidak sendiri. Rusli bersama kawannya yang sudah dianggap seperti adik bagi Rusli yaitu kartini – Janda muda korban kawin paksa ibunya. Semenjak pertemuan itu perasaan yang berbeda tumbuh dalam hati Hasan ketika melihat Kartini.
Rusli adalah seorang aktivis politik. Ia mulai berkelana dan berpindah-pindah tempat ketika partainya dilarang. Ia juga sempat menetap di Singapura. Rusli bersentuhan dengan banyak pemikiran, paham, dan ideologi selama di Singapura.
Setelah pertemuan itu Hasan, Rusli, dan Kartini jadi sering bertemu, baik di rumah hasan atau di rumah Rusli. Dalam pertemuan itu ternyata Hasan mendapatkan hal-hal baru yang berseberangan dengan keyakinannya. Pada awalnya Hasan menganggap orang seperti Rusli adalah orang kafir yang perlu ditunjukkan ke jalan yang lurus dan benar. Maka timbul niat dalam hatinya untuk mendakwahi Rusli. Namun bukan berhasil yang didapat Hasan untuk membawa Rusli ke jalan yang lurus sesuai perintah agama, Hasan malah terseret dan akhirnya larut dalam pemikiran kawan-kawannya itu. Selain Rusli, Hasan juga berjumpa dengan kawan Rusli lainnya yakni Anwar dan Parta yang juga seideologi dengan Rusli. Maka semakin larutlah Hasan dalam pemikiran kawan-kawan barunya itu.
Dengan terpengaruhnya Hasan dengan pemikiran kawan-kawannya itu, membuat hubungannya dengan sang ayah menjadi retak. Itu terjadi ketika Hasan pulang ke Panyeredan bersama Anwar. Pertengakaran yang membuat hubungannya dengan sang ayah menjadi buruk untuk selama-lamanya
Achdiat Karta Mihardja lahir Cibatu, Garut, pada 6 Maret 1911. Achdiat menulis belasan karya yang terbentang dari tahun 1948 (sebagai editor buku Polemik Kebudayaan) sampai 2006 (Manifesto Khalifatullah), empat tahun sebelum wafat di Canberra, Australia. Novel Atheis terbit tahun 1949.
Novel Atheis merupakan kisah tragis anak manusia dalam proses pencarian diri. Kisah yang mengoyak batin manusia. Berlatar waktu pada saat masa kependudukan Jepang, Achdiat mengisahkan secara apik pergeseran gaya hidup tradisional masyarakat Indonesia ke gaya hidup modern yang sudah dimulai sejak awal abad dua puluh. Pergeseran yang membawa serta perselisihan dan bentrokan antara paham yang lama dengan yang baru. Hasan yang bertahun-tahun mendalami ilmu agama masih bisa goyah terhadap paham yang baru dikenalnya. Hasan tak mampu membuat akar keyakinannya menancap kuat dalam batinnya.
Bagaimana Hasan yang sudah mendalami ilmu agama, bisa goyah pemikirannya setelah bertemu dengan teman lama dengan pemikiran barunya? Bagaimana kehidupan Hasan setelah ia bertengkar dengan sang ayah? Juga bagaimana hubungan ia dengan Kartini setelah itu?
Novel Atheis mengajak kita untuk menyelami kehidupan Hasan yang penuh dengan pergulatan batin. Menjadi salah satu novel terbaik Indonesia yang wajib dibaca.

9 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Widiiiiwww saik bats bung Fajar Ananta Toer wkwkw

    ReplyDelete
  3. Wah rekomendasi buku yang menarik nih. Habis ini saya mau baca bukunya deh

    ReplyDelete
  4. Classic Classic Earrings for Professional Gamblers | Titanium Art
    Classic Earrings for Professional Gamblers · Classic Earrings with Barring · Classic Earrings with Gold earrings titanium blade · งานออนไลน์ Classic titanium tubing Earrings with Cowl Earrings rainbow titanium · Classic Earrings titanium rings for women with Double

    ReplyDelete