“Sekarang saya sudah dewasa. Sudah cukup matang untuk mempunyai pendirian sendiri dalam soal-soal hidup. Ayah tidak boleh memaksa-maksa lagi kepada saya dalam hal pendirian saya. Juga dalam pendirian saya terhadap agama,” kata Hasan.
“Kalau begitu, baiklah kita
berpisahan jalan saja. Kau sudah mendapat jalan sendiri, ayah dan ibu pun sudah
ada jalan sendiri. Jadi baiklah kita bernapsi-napsi saja menempuh jalan
masing-masing. Memang, ayah dan ibu hanya berbuat sekadar sebagai orang tua
saja, yang menjalankan sesuatu yang dianggapnya memang kewajibannya terhadap
anaknya, ialah mendoakan semoga engkau di jalan hidup ini bertemu dengan
keselamatan lahir batin, dunia akhirat. Hanya sekianlah yang ayah dan ibu
selalu pohonkan dari Tuhan kami,” ayahnya menimpali.
Hasan, adalah seorang pemuda yang dibesarkan di tengah keluarga
yang taat beragama islam. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di di Panyeredan, Wanareja, Garut.
Setelah menamatkan sekolahnya di HIS dan kemudian MULO, Hasan bekerja di
Jawatan Air Kotapraja Bandung. Masih muda, berpendidikan, sudah bekerja, dan
keturunan keluarga menak (ayahnya pensiunan manteri guru/Kepala Sekolah Dasar)
yang baik-baik, menjadikan Hasan pria idaman yang membuat lumer hati para calon
mertua.
Pada suatu hari secara tiba-tiba dengan penuh rasa yakin dalam
hati, Hasan berkata kepada kedua orang tuanya, bahwa ia ingin turut serta
memeluk ilmu yang kedua orang tuanya jalani. Mendengar anaknya berkata
demikian, mata kedua orang tuanya seketika membasah. Tangis haru bahagia
membuncah ketika mendengar anaknya itu hendak mendalami ilmu agama. Ia menjalankan puasa tujuh hari
tujuh malam dan mandi di sungai Ci Kapundung sebanyak 40 kali selama satu malam, dari ba’da Isya sampai
menjelang Subuh. Selain itu, ia pun pernah mengunci diri di dalam kamar selama
tiga hari tiga malam: tidak makan, tidak minum, dan tiada bercakap dengan
manusia.
Akibat menjalani ritual tersebut,
wajah hasan terlihat pucat. Perubahan fisik Hasan mulai terlihat. Hasan mulai
sakit-sakitan. Pekerjaannya mulai terbengkalai. Dia juga semakin melemah.
Bahkan sempat dirawat di rumah sakit. Karena ini pula paru-paru Hasan terserang
TBC.
Dalam mendalami ilmu tarekat, Hasan
dan rekan-rekannya sering melakukan pertemuan dengan gutunya untuk mendengarkan
uraian-uraian soal agama dari gurunya. Hasan dan rekan-rekannya hanya
diperintahkan untuk mengikuti arahan dari gurunya.
“Nanti pun akan terbuka rahasia yang
sekarang masih gelap itu. Bekerja sajalah yang rajin untuk ilmu kita itu,
perbanyak berzikir, perbanyak bertawaduk, perbanyaklah berpuasa dan kurangi
tidur. InsyaAllah nanti pun segala-gala akan menjadi terang. Untuk yang rajin
beribadat dan melakukan segala perintah ajaran ilmu kita, tak akan ada perkataan
‘wallahualam’ itu. Baginya tak akan ada rahasia lagi. Sesungguhnya, hanya
rohani yang suci bisa meningkat kepada tingkatan makrifat dan hakikat,
InsyaAllah, rajin-rajinlah saja menjalankan segala perintah yang telah
kuajarkan kepadamu itu!” Jawab sang guru menangkal pertanyaan dari
murid-muridnya.
Awal mula pergulatan keyakinan dalam
batin Hasan adalah ketika ia bertemu dengan rekannya sewaktu bersekolah di HIS
Tasikmalaya. Rusli namanya, ia baru pindah ke Bandung. Mereka berdua bertemu
pada saat Rusli datang ke kantor Hasan untuk mengajukan permintaan pasang air.
Saat Rusli datang ke Kantor Jawatan Air dia tidak sendiri. Rusli bersama kawannya
yang sudah dianggap seperti adik bagi Rusli yaitu kartini – Janda muda korban
kawin paksa ibunya. Semenjak pertemuan itu perasaan yang berbeda tumbuh dalam
hati Hasan ketika melihat Kartini.
Rusli adalah seorang aktivis
politik. Ia mulai berkelana dan berpindah-pindah tempat ketika partainya
dilarang. Ia juga sempat menetap di Singapura. Rusli bersentuhan dengan banyak
pemikiran, paham, dan ideologi selama di Singapura.
Setelah pertemuan itu Hasan, Rusli,
dan Kartini jadi sering bertemu, baik di rumah hasan atau di rumah Rusli. Dalam
pertemuan itu ternyata Hasan mendapatkan hal-hal baru yang berseberangan dengan
keyakinannya. Pada awalnya Hasan menganggap orang seperti Rusli adalah orang
kafir yang perlu ditunjukkan ke jalan yang lurus dan benar. Maka timbul niat
dalam hatinya untuk mendakwahi Rusli. Namun bukan berhasil yang didapat Hasan
untuk membawa Rusli ke jalan yang lurus sesuai perintah agama, Hasan malah
terseret dan akhirnya larut dalam pemikiran kawan-kawannya itu. Selain Rusli,
Hasan juga berjumpa dengan kawan Rusli lainnya yakni Anwar dan Parta yang juga
seideologi dengan Rusli. Maka semakin larutlah Hasan dalam pemikiran
kawan-kawan barunya itu.
Dengan terpengaruhnya Hasan dengan
pemikiran kawan-kawannya itu, membuat hubungannya dengan sang ayah menjadi
retak. Itu terjadi ketika Hasan pulang ke Panyeredan bersama Anwar.
Pertengakaran yang membuat hubungannya dengan sang ayah menjadi buruk untuk
selama-lamanya
Achdiat Karta Mihardja lahir Cibatu,
Garut, pada 6 Maret 1911. Achdiat menulis belasan karya yang terbentang dari
tahun 1948 (sebagai editor buku Polemik Kebudayaan) sampai 2006 (Manifesto
Khalifatullah), empat tahun sebelum wafat di Canberra, Australia. Novel
Atheis terbit tahun 1949.
Novel Atheis merupakan kisah tragis
anak manusia dalam proses pencarian diri. Kisah yang mengoyak batin manusia. Berlatar
waktu pada saat masa kependudukan Jepang, Achdiat mengisahkan secara apik
pergeseran gaya hidup tradisional masyarakat Indonesia ke gaya hidup modern
yang sudah dimulai sejak awal abad dua puluh. Pergeseran yang membawa serta
perselisihan dan bentrokan antara paham yang lama dengan yang baru. Hasan yang
bertahun-tahun mendalami ilmu agama masih bisa goyah terhadap paham yang baru
dikenalnya. Hasan tak mampu membuat akar keyakinannya menancap kuat dalam
batinnya.
Bagaimana Hasan yang sudah mendalami
ilmu agama, bisa goyah pemikirannya setelah bertemu dengan teman lama dengan
pemikiran barunya? Bagaimana kehidupan Hasan setelah ia bertengkar dengan sang
ayah? Juga bagaimana hubungan ia dengan Kartini setelah itu?
Novel Atheis mengajak kita untuk
menyelami kehidupan Hasan yang penuh dengan pergulatan batin. Menjadi salah
satu novel terbaik Indonesia yang wajib dibaca.
This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteMenarik bung fadjar~
ReplyDeleteMenarik tanpa mendorong
DeleteWidiiiiwww saik bats bung Fajar Ananta Toer wkwkw
ReplyDeleteSaik sonder berisik
DeleteGurih, jar
ReplyDeleteWah rekomendasi buku yang menarik nih. Habis ini saya mau baca bukunya deh
ReplyDeleteatheis itu apa sih gan?
ReplyDeleteClassic Classic Earrings for Professional Gamblers | Titanium Art
ReplyDeleteClassic Earrings for Professional Gamblers · Classic Earrings with Barring · Classic Earrings with Gold earrings titanium blade · งานออนไลน์ Classic titanium tubing Earrings with Cowl Earrings rainbow titanium · Classic Earrings titanium rings for women with Double